Archive for March, 2005

Reena & Aan: Stuck on You

Saturday, March 26th, 2005

"Apa, An? Ngomong aja," jawab Reena sambil mencet-mencet keypad ponsel. Melakukan komunikasi irit yang paling sering dilakukan oleh anak muda bila punya ponsel. SMS.
"Serius nih, jangan sms-an dulu dong, please."
"Iya deh, apa?"
"Na, mau nggak kamu jadi pacar saya?’
HAH??! Reena kaget!
"Gimana, Na?"
"Makasih yah, An." Reena cengengesan.
"Lho? Ih kok gitu jawabnya?"
"Uhm.. Gimana ya? Nanti aja ya jawabnya, An. Nggak pa pa kan?"
"Kapan?"
"Lusa deh."
"Oke, saya tunggu ya, lusa."
————
Lusa.
"Na, gimana?"
"Apanya, An?" Reena pura-pura bego.
"Jawaban kamu?"
"Oh itu.. emm."
"Emm?" Mata elang Aan menatap Reena lekat-lekat.
"Umm.. iya deh."
Aan segera meraih tangan Reena dan menciumnya. "Makasih Reena. I promise I won’t make you sad seperti masa lalu kamu."
"Really?"
"Yes," jawab Aan mantap. Tangan Aan meraih Reena dalam pelukan.
————
2 minggu.
"I should go home, An. Saya nggak bisa melawan. Semuanya mengharuskan saya kembali." Reena menunduk sambil terisak.
"Dan ninggalin saya sendiri di sini?" tanya An parau.
"Yah. Sebenarnya saya nggak mau. Apa yang saya cari sudah saya dapatkan. Apa yang ditawarkan di sana bukan keinginan saya. Tapi saya nggak bisa melawan keluarga saya, An."
Aan terdiam.
"An…"
"Ya sudah, nggak apa-apa. Kamu baik-baik ya di sana."
"An.., promise me to keep on communicating. Ok?"
"Of course, dear.."
————
"An, kok kamu berubah sih?"
"Berubah gimana sih, Na? Saya masih yang dulu kok."
"Kok kamu nggak pernah usaha mau ketemu saya sih?" suara Reena mulai meninggi. Melepaskan semua yang dipendamnya.
"Loh, ya mau gimana, nggak pas waktunya," Aan berkilah.
"Kamu nggak kangen ya sama saya?"
"Siapa bilang nggak kangen. Saya kangen kamu, Na."
"Kok nggak pernah mau usaha untuk ketemu saya?" geram Reena.
"…"
"Ayo jawab, An!"
"Na, jangan gini dong. Ngertiin saya."
"Loh, An. Kamu yang nggak ngerti," emosi Reena mulai meledak. "Kita udah hubungan jarak jauh gini, masa nggak ingin ketemu? Mumpung kita sekota sekarang, kok malah nggak bisa ketemu juga. Apa bedanya kalau seperti ini??"
"Yah terserah kamu deh, Na.” Aan malas berdebat."
"Ya sudah lah. An, saya pulang besok," kata Reena lambat-lambat.
"Hati-hati ya. Saya sayang kamu, Na."
"Saya sayang kamu juga, An. I miss you, but not you now. You in the last year’s person," ucap Reena lirih.
"Bye, Na."
–KLIK-
————
Setahun setelah percakapan di telepon.
Reena bertemu dengan Aan. Akhirnya.
"Na, kita udah nggak bisa terus lagi," kata Aan.
Hening sejenak.
"Na, kamu nggak pa pa kan?"
"Nggak kok." Reena mengenakan topeng tersenyum. Menangis dalam hati.
"Jalan yuk, An," ajak Reena ringan.
"Na…" Aan menangkap tangan Reena. "Sebentar aja, Na." Aan merengkuh tubuh mungil Reena ke dalam pelukannya.
"Iya." Mata Reena mulai basah.
Hening.
Reena terisak.
————
2 tahun.
Foto-foto Reena dan Aan berserakan di lantai kamar Reena.
Kembali airmata mengalir di pipi Reena. Setelah beberapa waktu dapat memulihkan perasaan Reena terhadap Aan, semuanya seperti film yang diputarkan kembali.
Reena mengambil ponselnya. Menekan menu contact, menekan pilihan ‘Aan HP’.
Reena menunggu sejenak, tersambung.
Nada panggil 3 kali, diikuti oleh suara seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
"Halo, Na. What’s up? Tumben nelpon siang-siang..," sapa Aan di ujung sana.
"An..," ucap Reena serak. Menahan tangis.
"Na, are you okay?" Aan mulai panik.
"An, I still love you.."-klik-
Reena mematikan ponselnya. Off.

Posting Baru :p

Saturday, March 26th, 2005

First posting..
This is a new blog from friendster :)