Archive for May, 2005

The Promise

Saturday, May 7th, 2005

“Berjanjilah akan kembali,” ucap pemuda
ganteng itu sambil mengelus pipi makhluk manis di hadapannya.
“Tentu saja.
Aku kan sangat mencintai dirimu.” Gadis itu menunduk dan menghela napas. “Berat
rasanya meninggalkanmu walau hanya seminggu. Sekarangpun aku sudah kangen
padamu.”
“Aku juga
sudah kangen padamu. Sudahlah, keluargamu lebih penting. Kalau tidak penting,
tidak mungkin ibumu menelponmu menyuruh pulang dengan tiba-tiba. Pasti telah
terjadi sesuatu yang gawat pada ayahmu.”
“Benar. Ayah
sudah kritis. Kata ibu, dokterpun sudah menyerah.” Gadis itu menggigit bibirnya
menahan tangis. “Tapi aku sebenarnya belum dapat memaafkan ayah, setelah semua
yang pernah dilakukan padaku.” Terlintas lagi kejadian-kejadian buruk di
benaknya, yang membuatnya sempat trauma terhadap kaum lelaki.
“Sudahlah.”
Pemuda tersebut merengkuh gadisnya ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, ingat
itu. Aku akan menunggumu di sini,” bisiknya di telinga gadis itu. “Tuh sudah
ada panggilan untuk naik ke pesawat. Baik-baik ya di sana, Sayang.” Bibirnya
menyentuh dan melumat lembut bibir gadis itu.
Dalam
pesawat, pikiran gadis tersebut menerawang dengan mata menatap kosong ke arah
jendela. Tiba-tiba terjadi goncangan yang sangat keras. Ada percikan api di
sayap pesawat yang sempat dilihat gadis itu melalui jendela. Belum sempat gadis
itu tersadar dari lamunannya, badan pesawat yang ditumpanginya terbagi menjadi
dua. Terbakar, jatuh mengikuti gaya gravitasi bumi.
Gadis itu
merasa panas sekujur tubuhnya, perih dan bergerak turun. Sesaat kemudian ia
merasa tubuhnya ringan dan melayang, dan ia melihat raganya semakin jauh ke
arah bumi.
Gadis
tersebut tidak pernah kembali. Baik kepada keluarganya, maupun kepada
kekasihnya.